Penelitian Terbaru Suhu Alam Semesta Kian Panas

Penelitian Terbaru Suhu Alam Semesta Kian Panas

Jika sebuah objek berjarak satu tahun cahaya, maka orang-orang menyaksikan objek tersebut sebagaimana kondisinya pada setahun lalu. Tim peneliti tersebut menggunakan metode ini. Mereka mengukur suhu gas dari jarak 10 miliar tahun cahaya atau 10 miliar tahun lalu, dan membandingkannya dengan gas yang lebih dekat dengan ruang dan waktu Bumi.

Penelitian Terbaru Suhu Alam Semesta Kian Panas

Tim peneliti tersebut adalah tim dari University of Hawaii, Swinburne University of Technology dan Monash University. Mereka berhasil mempublikasi hasil kajian mereka dalam jurnal Nature Astronomy. Tim peneliti tersebut merumuskan suhu gas yang lebih dekat pada waktu Bumi sebagai dasar untuk membandingkan dengan objek lain. Hasilnya, Bumi sedikit memperlihatkan suhu yang sama dengan objek-objek yang terdapat di ruang dan waktu ini.

Kegiatan Penelitian Terbaru Suhu Alam Semesta Kian Panas

Penelitian ini tak hanya mengukur suhu gas, tetapi juga membandingkannya dengan jarak ruang dan waktu. Jika ada beberapa objek dalam sekitar jarak satu tahun cahaya di lingkungan ini, maka mereka mengukur suhu dan luminositasnya. Luminositas menyatakan kecerahan objek tersebut Daftar Situs Judi Slot Online Terpercaya. Suhu adalah suhu gas yang lebih dekat pada ruang dan waktu Bumi daripada suhu gas yang membawa obyek di sekitar negeri ini.

Sumber informasi untuk penelitian tersebut diambil dari The Solar Constant of the Sun, Earth, and Space (SCSU) realished by NASA Goddard Space Flight Center. Sumber informasi untuk penelitian ini dipublikasikan pada 2013 oleh journal “Nature Astronomy” dan title “A lost age of the ‘Young Sun’ revealed by a 13C record”.

Tim peneliti menemukan bahwa suhu rata-rata gas kosmis telah meningkat lebih dari 10 kali lipat dan saat ini mencapai sekitar 2,2 juta derajat Celsius.

“Saat alam semesta berevolusi, daya gravitasi menarik materi gelap dan gas di luar angkasa ke dalam galaksi dan klaster-klaster galaksi. Tarikan itu sangat hebat, sehingga menyebabkan semakin banyak gas yang disetrum dan dipanaskan,” ujar Howard Johnson, seorang ahli fisika dari cawangan fisika di University of Hawaii.

Dua klaster galaksi yang membahayakan dan lebih besar, Ursa Major dan Ursa Minor, akan mempengaruhi suhu gas sekitar Bumi. Gas kosmis yang terkumpul dalam kluster-klaster tersebut dipanasi dengan dan menjadi lebih panas. Dengan demikian, suhu gas di sekitar kluster-klaster galaksi semakin panas dan jauh melebihi temperaturnya ketika angkasa ini sangat muda. Para peneliti membandingkan suhu gas jauh masa lalu dengan gas yang ada sekarang ini.

Asal air yang masih membingungkan

Asal air yang masih membingungkan

Air adalah benda paling punya nilai di Bumi. Tanpa air, semua kehidupan di Bumi dapat musnah. Meski terlampau penting, anehnya, kita tidak menyadari apa-apa tentang air. Terutama, bagaimana air tercipta. Di bangku sekolah barangkali kita studi bagaimana siklus air. Namun, dari mana asal air tidak pernah dulu dijelaskan. Sekilas, pertanyaan ini sebetulnya sederhana, tapi nyatanya hal tersebut telah membingungkan para peneliti hingga sekarang. Namun, para ilmuwan telah mengajukan beragam teori untuk menjawab hal ini.

Setelah ledakan besar, berjalan pembengkakan di area angkasa yang ditransformasikan ke didalam bak partikel panas yang seragam. Partikel-partikel itu sesudah itu bertabrakan, berdesakan, hingga bergabung membuahkan inti atom pertama di alam semesta. Proses panjang itu sesudah itu membuahkan atom hidrogen, helium, dan litium.

Seperti yang kita ketahui, air sendiri adalah senyawa yang dibentuk dari hidrogen dan oksigen. Pada awal pembentukan semesta, hidrogen terlampau berlimpah tapi bagaimana dengan oksigen? Sekitar satu miliar tahun, bintang menjadi berlimpah. Inti dari bintang sendiri terlampau panas dan lebih pas disebut tungku nuklir.

Asal air yang masih membingungkan

Tungku nuklir ini mencampurkan inti atom yang menjadi elemen yang lebih kompleks. Maka terciptalah karbon, nitrogen, dan oksigen. Setelah kedua bahan pembentuk tersedia, air tidak sesudah itu terbentuk begitu saja. Air terbentuk ketika berjalan ledakan bintang atau kerap disebut supernova. Ledakan tersebut memuntahkan elemen-elemen ini ke area angkasa. Di antariksa, hidrogen dan oksigen berbaur membentuk H2O atau air.

Molekul air ini sesudah itu jadi bagian dari pusaran berdebu yang menyatu ke Matahari dan planet-planetnya yang di mulai lebih kurang sembilan miliar tahun. Itulah bagaimana air dapat berada di Bumi. Berasal dari Komet dan Asteroid Menghadapi teka-teki ini, para astronom menyadari bahwa ada dua sumber air yang siap pakai, yakni komet dan asteroid.

Baik komet maupun asteroid dapat punya kandungan es. Jika keduanya bertabrakan dengan Bumi, mereka memberikan jumlah material yang diduga berbagai ilmuwan, benda-benda seperti itu dapat dengan enteng mengirimkan air lautan. Pengamatan baru-baru ini tentang lapisan kimiawi asteroid menunjukkan, rasio beraneka bentuk hidrogen didalam asteroid tampaknya lebih cocok dengan yang kita temukan di Bumi.

Tetapi pemikiran didasarkan terhadap sampel terbatas, bermakna hipotesis ini belum sepenuhnya dibuktikan. Baru-baru ini, peneliti kembali tertarik dengan air berasal dari komet atau asteroid. Mereka mengamati Komet 46P. Wirtanen terhadap 2018. Mereka menemukan, terhadap komet yang dijuluki “komet hiperaktif” itu terkandung air dengan rasio yang sama dengan air di Bumi. Studi yang diterbitkan didalam jurnal Astronomy and Astrophysics itu berikan lebih banyak wawasan tentang mengapa komet hiperaktif punya rasio isotop yang sama dengan air Bumi.

Perkenalan Tentang Alam Semesta

Perkenalan Tentang Alam Semesta

Perkenalan tentang alam semesta perlu kita pelajari terlebih dahulu sebelum mulai melakukan eksplorasi lebih jauh agar terhindar dari kekeliruan yang dapat berakibat fatal di masa depan. Alam semesta itu sendiri merupakan rangkuman dari segala ruang dan waktu berikut isi di dalamnya, melingkupi planet, galaksi, bintang, bahkan hingga alternatif bentuk energi maupun material.

Luas keseluruhan alam semesta kita hingga saat ini belum dapat teridentifikasi, melainkan saat ini umat manusia hanya mampu menghitung besarnya alam semesta yang terdeteksi atau termasuk dalam ranah observasi. Jika dihitung menurut diameternya, luas jagat raya sekitar 93 miliar tahun cahaya.

Perkenalan Tentang Alam Semesta

Universe atau alam semesta masih menjadi sebuah istilah yang diperdebatkan oleh para ilmuwan sehingga masih tergolong dalam klasifikasi spekulasi semata. Sebagian peneliti beranggapan bahwa universe berarti adalah segala sesuatu yang terkandung pada alam semesta itu sendiri, sementara separuh lainnya berpendapat bahwa universe hanya merujuk pada alam di mana kita mampu menjangkaunya saja.

Berdasarkan ilmu ukuran kuantum, semesta yang kita tempati sekarang terputus hubungannya dengan universe yang jauh lebih besar satu sama lain. Dengan kata lain, indera maupun pemahaman manusia tidak akan pernah sanggup menggapainya, seolah-olah memang sengaja dirancang agar multi-verse tidak dapat saling bersentuhan demi terjaganya keseimbangan alam.

Permulaan Perkenalan Tentang Alam Semesta

Permulaan umat manusia mengalami perkenalan tentang alam semesta diawali oleh gagasan yang keluar dari seorang ilmuwan Yunani kuno bernama Nicolaus Copernicus. Beliau menentang pendapat umum masyarakat pada saat itu yang menyatakan bahwa Bumi merupakan pusat dari alam semesta, di mana seluruh benda langit bergerak mengelilinginya.

Gagasan tersebut ia namakan teori heliosentrik, berisi tentang penjelasan lengkap bahwa sesungguhnya alih-alih bumi, justru Matahari lah yang merupakan pusat tata surya. Sontak saja seluruh penduduk di seluruh dunia heboh dan sulit menerima pandangan tersebut, bahkan Nicolaus sempat dituduh penganut ajaran sesat dan dimasukkan ke dalam penjara.

Penelitian pun tidak berhenti sampai situ, semakin lama terkuak sudah bahwa matahari itu sendiri hanyalah salah satu dari ratusan miliar bintang yang berada di galaksi bima sakti. Observasi lanjutan juga mencatat bahwa ternyata alam semesta itu sendiri memiliki sebuah awal yang dinamakan peristiwa Big Bang, dan itu menjadi pemicu segala perkembangan alam semesta hingga sekarang.